Jumat, 30 Oktober 2009
Jumat, 05 Juni 2009
Jumat, 08 Mei 2009
SUNDUSIN
Mendekatlah padaku...
bila malam penuh petir bersahutan
awan bergelombang turunkan hujan
daun-daun deras bergoyang ranting patah terbelah
dekaplah bidang dadaku disana kau temui kedamaian
Mendekatlah padaku...
saat puisi pengantar letih tak lagi gemulai menidurkanmu
aporisma tumpul di jilat jaman yang kian tandus bahasa
pantun tak seirama impian masa meregang nafas terlepas
mendekatlah padaku agar ku seka air matamu dengan cinta
Mendekatlah padaku...
sebab ini hari akhirku di simpang indah lekuk tubuhmu
memaksa bertahan hidup sia-sia cahaya putih mengerubungi
satu peri berjubah putih menunggu penuh sabar di sisi ranjang
berkemas mengangkatku meski ring melega jelas di sumbat jantungku
“ Jadi, hanya sampai di sini aku bisa melindungimu “
Senin, 27 April 2009
Sabtu, 25 April 2009
NAKHODA
Dik...
aku sudah sampai di berandamu
masa kau diam saja malah tak seri menyambutku
coba kembangkan senyum lalu kau solekan gincu dibibirmu
agar ku tak ragu bahwa kau memang tegas menungguku
Dik...
Aku tidak melihat mawar yang kita tanam tiga tahun lalu
sebelum ku berangkat berlayar berharap pulang menujumu
lalu kau bilang : “ Bunga itu tanda keabadian kita bang”
aku curiga jangan-jangan kau sudah memiliki kekasih baru
Dik...
siapa barusan yang mengintip dari balik jendela rumahmu
wajahnya kekar sedikit terlihat terhalang gorden mata penuh amarah
nafasku tersesak menatapmu menunduk jelas penuh prasangka
“ Abang pulang saja ya dik, menyusun hari membuang rindu sia-sia”
Jumat, 24 April 2009
ODE BUAT EKSEKUSI
Seperti biasa aku terpuruk terkurung masa
meleleh asa leher ingin menjuntai pada tiang bertali
takut akan kerentaan melemah raga tak berdaya
iman yang tercabik-cabik bertepuk riuh para iblis keriangan
mati. Ya, hakim telah memutusku hukuman mati
Pada malam cahaya remang lampu lima watt
sajadahku terhampar menggelepar di hujam air mata
sepuluh moncong senapan semenit lagi menuju sasaran
membidik jantung merobek keinginan bertemu jemari istriku
(Aku) terpidana, membunuh satu keluarga sebab hutang berlimpah berbunga
Di arena kebun kosong gelap pekat tak berpenghuni
darahku muncrat pada hitungan ketiga komando tak kasat mata
satu peluru bersarang tepat di dadaku berbaju tak berkancing
aku kepayang mataku lebam di tutup kain hitam tak tembus pandang
(Aku) terpidana, melunasi peristiwa menjawab tegak hukum dunia
Rabu, 22 April 2009
MEDIO HARI KELAM
( CERPEN )
“ Tiba-tiba ada rindu,
masuk menohok sela-sela hati,
aku sesak memandang wajah asing,
menantang persis di sepuluh tahun yang lalu”
Sabtu sore ( Pk 16.00 Wib )...
Lubang hitam di hati menganga dalam seperti kubangan, menyisakan genangan nyeri meski terkadang aku memaksa diri untuk bertahan. Berusaha riang di antara kota-kota yang aku singgahi, berjuang menjinakkan luka yang kau toreh teramat perih. Berjalan terus mencoba menepis wajah manismu yang selalu tergambar jelas di aspal-aspal hitam panas terbakar matahari. Ya. Wajahmu selalu tampil tegas di setiap gerak langkahku yang nyaris lumpuh.
Sabtu malam ( Pk 22.00 Wib )...
Malam ini aku mengeluh, berteriak keras mengadu pada bulan yang muncul setengah. Melampiaskan amarah mencari penyebab kau pergi tanpa peduli betapa hancurnya aku. Namun apa yang ku dapat dari bulan dan malam yang di gasruk kelam? Hanya seonggok diam, dan pelan-pelan malah menamparku dengan angin lalu mengejek kecengengan seorang laki-laki yang seharusnya tegar seperti karang dan gelombang. Duh..., mengapa alam tidak mengerti juga, kalau cinta mampu membuat tolol manusia super jenius sekalipun.
Minggu pagi ( Pk 08.05 Wib )...
Teriakan still got the blues dari Gary moore yang sengaja aku pasang pada alarm hand phone memaksaku terbangun, semestinya alarm itu berbunyi di hari kerja, tapi aku lupa meresetnya kembali, padahal aku berencana di hari libur begini akan meng habiskan waktuku untuk tidur lebih lama. Sial, benar-benar sial, semalaman aku tidak dapat memejamkan mata hanya karena memikirkan ketidakpercayaanku akan kepergianmu yang teramat cepat. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan pagi ini, aku hanya butuh secangkir kopi dan sebatang rokok.
Minggu siang ( Pk 11.30 Wib )...
Sesiang ini, wajahku lesu, mataku layu, tubuh lemas seperti kurang darah, nafsu makan hilang, jemari-jemari kering keriput, perut mual seperti ingin memuntahkan kekecewaan akan ketakberdayaanku sepeninggal kamu. Lorong-lorong waktu terus bergerak mencuri masa, jejak-jejak gelisah tercecer di hari-hari yang kering dan sepi. Oh Gusti..., beginikah rasanya kehilangan. Bernyanyi sumbang, puisi tak lagi bergelombang merayu, senar-senar dawai mengendur sendu, daun-daun penghias taman jatuh jumpalitan bergantian menyentuh tanah. Lalu, kemana perginya sebuah perjanjian, yang sempat tertulis pada batu tua pondasi asmara?.
Minggu sore ( Pk 17.30 )...
Hari yang kusam telah aku lewati. Kehilanganmu adalah siksaan berat, semakin jauh niatku untuk membuang bayangmu, semakin dekat pula kenangan-kenangan berhamburan mengusik rasa kerinduanku. Aku terkulai lagi, mencoba mencari celah-celah ketegaran, mengorek kepahitan agar aku dapat membenci keterbelahan ini, lalu mengurung dan menenggelamkannya ke dalam ruang yang mampu membuatku hidup seperti sediakala.Tapi lagi-lagi, ini persoalan hati. Siapa yang mampu menyembuhkan luka hati?.
Minggu malam ( Pk 00.00 )
Lagi, aku berkubang dengan lamunan tentangmu. Mengabadikan saat bersamamu dalam film-film fiksi di pikiranku, mengais sisa-sisa kebersamaan kita meski pahit dan jelas tergambar tak akan pernah kembali. Jeritan-jeritan kerinduan bertalu-talu memukul dinding keheranan, memacu debaran lalu menjalar dalam-dalam sel-sel darah di sekujur tubuh. Namun aku tidak pernah menyesal, dan entah sudah berapa lama aku berusaha mempertahankan perjanjian. Tak pernah ada sia-sia, meski pada akhirnya runtuh juga. Perjalanan hidup. Ya, barangkali itulah yang mesti aku sikapi akan perpisahan kita. “Bukankah tidak ada yang abadi di dunia ini? Apa yang membuat manusia merasa bahwa kekekalan adalah miliknya?”
Senin siang ( Pk 13.05 )
Aku berusaha menetralisir perasaan, mencoba kembali ke titik awal dan menghibur diri dengan setumpuk pekerjaan yang harus terselesaikan. Pelan-pelan namun pasti semuanya kembali padaku. Teman-teman yang mengerti akan keadaanku saling berebutan memberikan saran tanpa harus menerima bayaran. Aku hanya tertawa ringan, sebab persoalan hati tidak akan pernah habis dan selesai hanya dengan berkonsultasi. Ini semua harus di selesaikan olehku. Itu saja. Bukan aku mengabaikan nasehat mereka, malah aku berterima kasih karena mereka telah berempati padaku.
Mereka kasihan melihatku yang tampak frustasi dan layuh karena kau tinggal pergi.
Senin malam ( Pk 19.00 )
Setibaku di rumah, ku yakinkan diri untuk langsung mandi dan bergegas tidur. Tak ingin lagi mengupas gambar-gambar tentang kita yang membuatku semakin letih dan seperti orang tolol. Tekad untuk melanjutkan hidup dengan baik sudah bulat aku rasa, jadi untuk apa juga membuang-buang waktu memikirkanmu yang belum tentu peduli padaku.
Ajaib! Lagu she’gone dari stell heart membangunkanku di selasa pagi. Sumringah wajahku terekam dalam cermin masa depan, kealpaanku mengenangmu tadi malam memberikan harapan dan kenyamanan di hari-hari yang akan aku lalui nanti. Ku ambil laci berkunci besi dan kumasukan wajahmu ke dalamnya, tak akan pernah ku buka sebab nyeri pasti menghambat pergerakkanku selanjutnya. Selamat jalan kelam, sampaikan senyumku nanti malam pada bintang dan bulan yang pernah mengejeku di medio hari kelam>>>
Selasa, 21 April 2009
Jumat, 17 April 2009
Kamis, 16 April 2009
KAMU BOLEH PERGI
( Cerpen Cinta terlarang )
“ Adzan menggema menuntun jiwa
Pada sebuah siang di pelataran masjid kampus
Kau menunggu sementara aku berwudhu
Perbedaan telah membuat kita tak sejalan “
Malam yang bening, satu rembulan terangnya menembus daun-daun berkilauan, ratusan bahkan jutaan bintang bergantian berkedip genit menghiasi bumi yang nyaris renta di gerus masa. Suara jangkrik dan kodok dari balik pematang di genangi air, bersahutan begitu indah seirama. Goyangan ranting-ranting bunga tebu gemulai lembut di terpa angin semilir. istirahkan jiwa yang lelah seharian menganyam harapan. Namun tetap juga sama seperti malam-malam yang terlewati, mataku sulit terpejam meski lunglai mengepung tubuh dari kaki hingga kepala.
Malam yang hening, sendiri aku menghisap penat dan puluhan batang rokok, inspirasi kekalutan menyerang tak bisa lagi kubendung, kamar mulai pengap di kepung putih kuning asap rokok yang jelas-jelas mematikan meski rendah tar dan nikotin. Tetap saja. Aku belum mampu rebahkan letih di atas kasur rombeng penuh debu dan gelisah.
Aku mencoba mengingat-ingat kejadian tadi sore, saat bersamamu beradu pandang lalu bicara tegas di kantin kampus yang mulai sepi di tinggal teman-teman. Kita berdua terdiam sejenak sambil menyeruput sebotol limun dingin kesukaan kita. Sesekali aku mencuri indah lentik bulu matamu yang terhalang gerai rambut hitam lurus berkilau tertimpa cahaya matahari yang masuk dari sela-sela atap asbes kantin yang bolong. Aku memilih tidak banyak bicara sebab pertemuan mendadak ini kau yang minta, entah ada apa, aku malas mengira-ngira maksud dari pertemuan ini.
Tiba-tiba pikiranku mencipta ingatan masa lalu, menerobos kenangan perjalanan kita yang nyaris genap lima tahun lamanya :
“Masa-masa awal perkenalan kita, menjelang ospek kau dan aku mahasiswa yang baru saja di celupkan ke dalam alma mater kampus biru. Berebut kemampuan mewujudkan permintaan senior yang kadang tidak masuk akal, meniru gaya politikus meski kau tak mirip tapi aku bangga akan kerja kerasmu sampai-sampai terlihat geli dan tak mampu menahan tawa lalu mampir ke toilet sebentar. Sementara aku frontal dan susah di atur, radikal, bahkan kadang menolak di perintah untuk mengumpulkan barang purba yang tak mungkin aku dapatkan dari mal atau pasar rakyat sekalipun. Lalu, para seniorpun menghukumku dengan lompat kodok mengelilingi parkiran fakultas yang sejuk di lindungi deretan pohon sengon. Sekarang, giliranmu yang tertawa sampai keluar air mata melihatku kelelahan dan penuh keringat. ( siang yang konyol, dendam turun temurun harus terjadwal dari kegiatan kampus, mungkin saja sampai kiamat )
Menjelang petang, kegiatan tahunan akhirnya usai, aku duduk menyender pada bangku tua tepat di depan kelas, sementara jemarimu sibuk memainkan keypad hand phone, mungkin mengabarkan orang tua lewat sms bahwa anaknya baik-baik saja di rantau orang. Ups...! anak mami yang manja, tapi cerdas dan mau membaur pada level apapun. Diam-diam aku terbangkit bangga dan terus memandangi wajahmu yang letih, sebab seharian penuh bertarung dengan kegiatan yang memaksa untuk tetap berada di lapangan hitam tiada ampun.
Akhirnya, perkenalan kita pun semakin lekat, aku sering membantumu membuat paper dan begitu sebaliknya. Kadang aku juga meminjam bukumu dan kamu tak pernah segan-segan mengikhlaskannya. Saat istirahat, kita berdua dan sejumlah teman-teman ngobrol bersama sambil menikmati renyahnya lumpia bikinan mbak ponirah pemilik kantin. Hari itu ringan saja, tak ada beban. Semuanya mengalir tanpa di buat-buat, tanpa di reka-reka. Cerita kita mengayun menciptakan persahabatan yang semakin deras. Bersama yang lainnya, kitapun sering bertukar pikiran tentang kuliah dan keinginan di masa depan.
Di suatu hari yang lain, gejala takut kehilanganmupun mulai menggerogoti, perasaan ingin bersamamu terus menjadi candu, kamar kosku di penuhi gambarmu, meja belajarku di hantui senyummu terus-menerus. Semestinya aku tak boleh merubah pertemanan menjadi lebih. Begitu pikirku, karena perbedaan keyakinan jelas-jelas menggaris tegas tanpa kompromi. Tapi akupun tak mau membohongi rasa yang terlanjur tercipta : ( Ya, aku mencintainya!, sepertinya itu yang aku rasakan sekarang )
Hari ini, aku berniat bertemu dengannya seusai kuliah, aku berencana mengajaknya pergi ke malioboro dan bicara apa adanya. Semampuku, ya, semampuku. Sebab aku sudah tak kuat lagi menahan gejolak ini. Mungkin yang akan aku terima nanti pahit, tapi lebih baik seperti itu ketimbang tak di kompromikan malah menjadi duri dalam hati.
Malioboro yang ramai, andong dan becak bertebaran mengangkut wisatawan luar negeri dan domestik, pedagang souvenir asik negosiasi dengan para pembeli, polisi lalu-lintas sibuk mengatur jalan agar tak macet. Sebab luas jalan di malioboro jelas-jelas tak seimbang dengan jumlah kendaraan yang semakin lama semakin bertambah. Tapi itulah Yogya, kota yang tak henti-hentinya di datangi wisatawan karena menarik dan ramah. ( bukan karena kemacetannya lho! ).
Bus jalur empat yang membawa kita dari kampus, berhenti di halte dekat pasar beringharjo, akupun turun sambil menggandeng tangannya agar tak terpisah dari banyaknya kerumunan orang. Di depan pintu pasar tradisional, nampak ibu-ibu berkebaya menawarkan beraneka macam makanan jawa. Dari tempe gembos, tahu bacem, sayur mayur yang di jadikan pecal, sate telur puyuh dan segumpal tiwul manis legit.
Sayang, tadi aku sempat makan di kantin kampus, jadi tak berminat lagi untuk mencicipi semua itu.
Kau dan aku berjalan sedikit menuju benteng Vredeburg yang tepat persis di depan Istana Kepresidenan Yogyakarta. Cuaca cerah membuat aku lebih memilih duduk-duduk di halaman benteng yang sejuk di penuhi pohon kamboja. Aku bersyukur karena hari ini tak ada kegiatan pameran atau apapun di benteng ini, jadi aku bisa leluasa mengucurkan isi hati tanpa harus terganggu dengan orang-orang yang biasanya hilir mudik.
Sesekali angin datang menampar pipimu yang bening, duduk di sampingku menunggu dan menebak-nebak, apa gerangan yang akan ku lontarkan dari mulutku. Begitulah aku menebak-nebak wajahmu yang nampak khawatir dan kebingungan. Pelan-pelan tapi pasti akhirnya ku beranikan diri mengungkapkan semua keinginan dan harapanku. Fantastis! Kau terdiam sambil menggangguk, tanda setuju kau menerima pinanganku sebagai kekasih yang akan selalu bersamamu di masa datang. ( Oh...,aku lupa bagaimana rasa pahitnya buah maja )
Sore yang riang, hatiku berbunga. Cinta terkembang bersayap terbang menyusup ke dalam sukmamu yang ku tahu juga merasakan bahagia. ( Tuhan...,setelah ini jangan Kau ciptakan perpisahan, sebab cintaku terlalu dalam masuk tak bersisa )
Setiap hari sepulang kuliah, biasanya tepat jam satu siang, kau menungguku setia di depan kelas. Begitu sebaliknya. Komitmen yang kita buat teramat kuat, tak ada satupun yang mampu merevisi klausul baku kau dan aku. Semua terjadi karena cinta. Mustahil terpencar kecuali Tuhan yang meminta.
( sampai-sampai kita lupa dengan perbedaan keyakinan yang sangat sakral )”
Akupun tersentak saat tanganmu yang halus menyadarkanku dari lamunan yang panjang. Pengembaraanku ke masa lalu terhenti. Ruh ku menyatu lagi bersama tubuh dan duduk tepat di hadapanmu. Di kantin kampus. Ya, di kantin kampus aku berdebar-debar menunggumu angkat bicara.
Bibir atasmu mulai bergerak, gemetar seakan berat melontarkan kalimat kulihat, dentuman jantungmu memaksa untuk diam dan tak menghamburkan kata-kata. Pandanganmu kosong, namun tekanan teramat kuat entah dari mana yang akhirnya memaksamu jelas mengeluarkan nada.
“ Bang, bapak tahu tentang hubungan kita, dia menyuruh aku untuk menjauh dari abang. Persoalannya terlalu rumit dan tegas. Bapak bilang jangan jadikan cinta sebagai pengesahan dua insan yang berbeda keyakinan tetap menyatu. Kemarahan bapak tak bisa aku bendung bang, dia berani menganggap aku bukan anaknya kalau aku masih terus bersama kamu”.
Mulutku rapat terkunci, bumi seakan berputar dan ingin menjatuhkan aku ke dalam tumpukan bara api bertubi-tubi. Rasional pertahanan diri pupus seketika, hatiku berlubang. Ingin meledakkan emosi tapi hati menuntuku jangan. Campur aduk kecewa dan amarah tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Begitu aku kira.
“ Lalu, bapakmu bilang apa lagi?” Jawabku sambil membayangkan pahitnya buah maja yang sebentar lagi akan menjadi sahabatku.
“ Bapak tidak bicara apa-apa lagi, dia langsung meredam merah wajahnya lalu membanting pintu masuk ke dalam kamar. Hanya aku yang menafsirkan, memang benar bang, tidak pernah ada satu perahu dua nakhoda, kalau itu terjadi maka seluruh penumpangnya akan jauh tersesat “. Begitu ucapmu terakhir kalinya.
Aku terdiam sambil mengatur ritme nafasku, mencoba merenungi arti dari penyatuan cinta yang besar namun berlandaskan keyakinan yang berbeda. Barangkali bapaknya benar bahwa cinta tak pernah mengajarkan kita untuk mengalahkan keyakinan, ( Kau masuk ke dalam yakinku atau aku yang pindah ke dalam yakinmu. Tidak, itu bukan perintah cinta, cinta teramat tinggi kedudukannya, selama ini manusialah yang sudah menurunkan derajat cinta demi kepentingan segenggam nafsu )
“ De, aku rasa bapakmu benar, selama ini kita mempermainkan cinta hanya karena keinginan bersama terus mendesak-desak. Di balik itu semua, kita tidak mengerti apa arti cinta yang sebenarnya. Kamu boleh pergi de, tapi kita tetap sebagai sahabat yang ada dikala suka dan duka. Toh semua hubungan tidak melulu di isi percintaan sepasang kekasih. Biarlah ini menjadi sebuah kenangan yang penuh hikmah, kau akan terus ada di hatiku meski tak utuh menjadi milikku”.
Matahari perlahan merendah, sinarnya meredup mengantarmu bangkit meninggalkanku, aku lihat kau menjauh, sambil tersenyum ikhlas meski air mata dan desau perihmu terlihat jelas.
Bayangan bulan mulai terlihat, aku bergegas meninggalkan kantin kampus yang mulai sepi. Kelas-kelas terkunci, burung-burung menyelinap genting-genting tinggi. Satu hari penuh makna ku toreh di rak hati terdalam. menganyam cerita lain esok hari, yang tentu berbeda dengan cerita kita...>>>
Selasa, 07 April 2009
SUDAH
Sudi kiranya aku mampir sebentar ke rumahmu
Setelah sekian lama ku kayuh rindu sisa pertemanan kita
Terpisah benua coretan janji tak bermakna artinya
Serpihan kasih binasa perlahan di lalap waktu dan air mata
Sejenak saja, ijinkan aku menjenguk wangi rambut dan teduh matamu
Tolong bukakan pintu berandamu meski tak ikhlas
agar aku masuk menyentuh merah bibirmu yang ku kenal dulu
membasuhnya dengan kasih walau sudah tak lengkap betul
memaksamu memeluk hambar isi hati yang nyaris mati
sejenak saja, ijinkan aku menunjukkan memarnya penyesalan
Sesudah itu, relakan aku pergi lagi menembus mimpi
menjelajahi malam menghitung bintang melupakanmu
mengukir kelam keringkan asa di pematang bulan
jangan panggil aku jangan pula kau lambaikan tanganmu
supaya ringan langkah berlalu menelusuri sepi kesendirian
Suatu hari
Ku tulis puisi ini
saat rindu tak mampu lagi ku bendung
saat resah terus menggeliat melumat raga
saat cinta tak lagi memandang makna kasta
Sore itu di shelter kwitang...
Ku tunggu kau di antara gerimis pekat awan
Bersandar keinginan menyapa teduh bola matamu
Menyibak asa menggigil hasrat segera memelukmu
Pertemuan yang lengang tiada halang melaju tenang
Sore itu di sheter kwitang...
Merayap kejenuhan sumbang asmara terlalu lama
Burung beriring pulang sengon rindang basah di tabuh hujan
Gelisah berjejal tak kunjung reda meski kau melangkah datang
Kebingungan yang ganjil aku menunggu kau atau bukan
Sore itu di shelter kwitang...
Pelangi tak muncul gedung-gedung tua di depan kedinginan
Rasa yang hampa meski sekarang kau tiba di hadap muka
SEMARA
Malam beribu malam kau kuanyam
helai demi helai rambutmu kutimang
tak selembar pun benang rentang memisahkan
lalu kau berbisik memohon hari tak lekas menghilang
bilis matamu itu menyentuh ngilu niat beranjakku
SEKIAN DULU
Jangan kita salahkan siapa-siapa
sebab percuma menempuh jalan tiada ujung
pertikaian tak kunjung reda kau dan aku lelah
enggan bertutur menipu mencari-cari seribu alasan
dan, sekian saja dulu hubungan kita
SABANA
Cakrawala menyelinap memerah
menyusun malam mendulang
melurupkan matahari menyambut bulan
pelita dinyalakan sabana luas menggigil kedinginan
bukit rinjani itu penuh bayang luka mengenang
RINJANI
Menjamah cakrawala berkerudung lembayung
berkejaran awan dari segara anak menuju puncak
matahari nyaris padam terhalang pelawangan
dari Sembalun sampai Bayan aku rindu kepadamu
RASANYA AKU BELUM SEMPAT MINTA MAAF
Di persimpangan itu kita berpisah
Kau utara, aku selatan menjilati kelam
Melangkah tertunduk, lewati tanah merah membasah
Meninggalkan sejuta pertanyaan sepanjang Padjajaran
Ah…, rasanya aku belum sempat minta maaf kepadamu
PEBRUARI SENJA
Pebruariku semakin tua
menanam guratan pada wajah tak bercahaya
usia menggeliat menyerbu raga, rapuh, luluh tak berdaya
sebuah makna belum lagi sempat ku sematkan
aku berbaring dan seterusnya terbaring
PEBRUARI DUARIBU TIGA
Menghitung malam gerimis kepanjangan
tiada rembulan apalagi taburan bintang
sepintas lalu bayangmu cepat berkelebat
menyusun ingatan luka menganga mengenang
duh…, kau begitu tajam menusuk sembilu
PEBRUARI DUARIBU EMPAT
Menepis asa yang tak sanggup terbayar
menyibak kelam di pergumulan resah
mendulang galau tersesat di kerinduan
jalan setapak buntu di sekat luka biru
PAGI BULAN NOVEMBER
Pernah kukirim bahasa rindu kepadamu
lewat angin dan lirih butiran gerimis malam hari
kau tak menjawab bahkan pintumu alpa terbuka
sementara inginku kau pungut meski hanya sejumput
Pernah kulayang sepucuk resah jauh darimu
lewat ombak merintih menggulung di samudera pilu
kau tak bergeming pagar hatimu terkunci sendu
beranda jiwa sesak melupa di kesunyian lara
Ingin kucambuk bahasa rindu sepucuk resah
berharap lega mengingatmupun sia – sia
sebab kau tak pernah menerima rindu dan resahku
yang selalu kuletakan di atas angan dan degup jantungmu
OI…
Kau harus tahu,
kisah kita tak serupa siti nurbaya
asmara yang terjalinpun berbeda dengan sampek engtay
negara yang kita tinggali lain dari romeo dan juliet
jadi, mengapa kau harus takut dengan bapakmu ?
OH…
Sebait puisi pudar di lereng hati
maknanya menguap menggigil letih
tinta hitam yang mewakili melebur luntur
menyatu di titik sela tabula rasa
terperosok sepi aksara nyeri tanpa arti
ODE KEPADA LUKA
Sejuta pertanyaan di sela jawaban rentan dengan dusta
Telinga kabur mendengar jenuh menutup kelopak hasrat
Jiwa yang tersuruk di hantam cinta berlumur pengkhianatan
Air mata darah menggenang membanjiri wajah bertopeng
OASE
Pada kesendirian jenuhku mengembara
Mencari celah tersesat cermin fatamorgana
Berjalan tak bisa merangkak pun nyaris koma
Lalu kau menjelma teteskan rayuan keluguan
Oh…, oase itu ternyata racun tak berwarna
NOKTAH NOL
Selamat malam peri penyelamat nyeri
telah kau sembuhkan satu luka di gema doa
yang sempat mampir bertahun dalam jiwa
mengikis habis seluruh rasa di setiap relung sukma
sungguhkah cinta tak lagi mampu bertahta ?
MERDESA
Aku lupa menjenguk teduh mata mu
padahal telah ku susun asmaradana ku
berminggu rindu ku simpan hanya untukmu
bertaut pilu memendam sembilu
masih patutkah cintaku menghampirimu ?
MEMO
Ingatkah kau tiga tahun yang lalu…
di batang pinus itu kita ukir namamu dan namaku
di lingkari bulatan hati pisau lipat saksi menancap
di lumuri pilu mengingat orang tua kita tak setuju
di ombang-ambing gelisah mencari jalan keluar
Ingatkah kau tiga tahun yang lalu...
tertawa bersama melintasi srumbung menuju jurangjero
tanganmu kuat memeluk aku yang setengah meragu
mataku pedas memacu keyakinan berharap kau selamanya
cengkeramanmu semakin lekat, hujan mengiring lebat jiwa resah
kini, dimana kau ?
Saat aku sekarat menahan rindu setia untuk menanti
Menziarahi bukit mengelupas batang pinus nama kita tak ada lagi
Mimpi-mimpi tersangkut awan berarak tak punya jejak
Mensiasati rumah pergi sendiri tak jelas tuju
MEDIO
Ku larung seluruh rasa segala asa
tak bersisa karena ku simpan percuma
padahal kemarin lusa ku coba menata
agar sempurna di tiba mu menjelang senja
Senin, 06 April 2009
MATAHARI SEPTEMBER
Matahari menyengat menindih bimbang sebuah pilihan
kau ingin pulang sementara aku merajuk jangan
tinggal saja di sisi hatiku yang tak berpenghuni
karena bersamamu begitu manis hari-hari ku lalui
" Aku lupa, kau labuhkan kasih hanya untuk sementara "
MALAM INI UNTUKMU
Seperti malam-malam sebelumnya
aku lewati sendiri menghitung bintang
kau jauh di seberang tak terbaca gelisahmu
menyeka jejak keinginan bersama selalu pupus
sementara hari terus beranjak menuakan usia
aku rindu cahaya matamu dik...
Seperti malam-malam kemarin
tiadamu memedihkan jiwa berselimut kelam
gerimis menyerang menyentuh hati penuh galau
lubang-lubang asa tersumbat jarak nyaris terkubur
renta jemari tak mampu menyentuhmu meski cuma bayang
dik, rindukah kau padaku ?
Malam ini untukmu saja
ingin ku sempatkan waktu menjamah potretmu
menantang menatap pada tembok kamar lusuh kumuh
mencipta hasrat birahi terkekang bertahun-tahun lamanya
memainkan angan seakan hadirmu begitu dekat melekat
dik, biarlah malam ini kusetubuhi gerai rambutmu dalam mimpi
MAAF
Aku yang salah
merubah rasa hingga kau kecewa
hasrat kembali tersesat di persimpangan
pudar cahaya sirnakan niat di belantara
duh gusti…, sampaikan maaf ku padanya
LUPA
Seharusnya masa lalu itu milik kita
memandang lembayung dibatas senja pun milik kita
lalu, mengapa kau berniat melupakanku ?
pergi seorang diri melintasi jarak yang tak dapat ku pegat
LELAH
Baiknya ku lupakan saja tentangmu
terus mengingat pun aku jadi gelisah
sementara waktu merangkak menerkam usia
meruntuhkan harap membangun sia-sia
telah ku buang detik, menit, jam percuma
LAYUH
Ku rendam rindu dan hasrat bertahun
ku jahit nganga luka merah pasrah
ku semai sunyi di telaga jernih tak berarti
jadi saat kita bertemu lagi nanti
jangan kau tanya layuh biru cintaku
KLANDESTIN
Malam itu diam rindu menyambangiku
menyusup malu menembus hati dan pikiranku
gerimis kecil menabuh merdu genting-genting tua
membasahi daun bangunkan tidur rumput kecil
keheningan menjelma sunyi menyayat tiada rupa
KIRMIZI
Dengan burakah cintamu di taut tinggi
Membubung kusam di semak-semak awan
Kau membusung memilah-milah kasih
Mencampakkan yang ada mencari tiada
Terlupa hari akhirnya menua sendiri
KEPADA SAM
Kau masih ingat jalan setapak
Di antara batang batang berduri wajah kita memucat
Kau berlari sambil mengunyah manis tebu sebilah hasil curian
Kakiku berlumur lumpur menerjang sembarang takut tertangkap
Aku lupa tahun berapa, tapi di mana kau sekarang Sam ?
KEPADA RAN
Kita berdua memecah kesunyian
Menatap buih ombak menuju pesisir
Daun-daun bakau hijau indah berbaris
Kau berlari kecil di antara karang air yang surut
Matahari merendah warnanya kuning kemerahan
Ditengah terbayang garis melengkung gelombang
Gambar kita menghitam bagai klise tak jelas pandang
Cahaya perlahan pergi berganti gelap hening
Pasir itu, rindu telapak kita yang sering telanjang
Sebab bertahun kita berpisah menuju kota
Kau jakarta, sementara aku di kota singa
Lupa ranah, tak sempat berbagi meski keinginan ada
KEPADA MALAM
Malam yang kusam…
butiran-butiran gerimis menyentuh tanah membasah
resah menggigil menyelinap tulang-tulang renta
hati yang rapuh tak kuasa bertahan memaksa rasa
ketiadaanmu meninggalkan jejak duka mendalam
Malam yang nyeri...
menjerat kalbu jaring duka tak berdaya
keinginan terjebak pusaran tiada lagi dirimu kini
bunga-bunga rebah menguncup letih tersibak perih
aku sendiri berteman malam kusam dan nyeri tak berarti
Berlalu saja malam...
bawalah kepingan luka terbakar matahari
sempurnakan kembali jiwaku yang hampir mati
sulamkan lagi asa yang retak tercabik perngkhianatan
aku tertidur menjemput cinta yang hampir tak teryakini
KAMIS PAGI
Kau memandangku dengan mata indah
aku membalas ragu akankah selamanya
sebab pertemuan ini adalah awal dan akhir
besok kau pergi tinggalkan jauh sebentuk rindu
gelisah menyerang kuingin pagi tak segera pulang
JAUH
Semalam kita putuskan untuk berpisah
sebab perbedaan telah menerobos telak
benteng yang kita bangun pun luluhlantak
kesepakatan berubah arah di putar gejolak
kesendirian menjadi takdir yang tak terelak
JANUARI DUARIBU TUJUH
bulan yang pergi...
bintang malas mengecup langit...
daun-daun rebah sesekali menggigil di terpa angin...
januari tersuruk awali hari-hari tak seimbang dengan harapan...
aku di sini, menjamah sunyi merangkai perih tiada henti...
pagi yang malang...
memanas memanggang rating-ranting hati...
asa tumbang terkapar menyentuh jiwa retak...
januari luluhlantak menuai kecewa di ambang terluka...
aku disini, mengemas takdir tak kuasa sendiri...
” Aku tetap di sini bersama januari cumbui sepi ”
JANUARI
Jangan redup pelitaku
meski tahun ini aku tak datang mengunjungimu
biar doa dan sepucuk
agar kau tak resah di kala aku jauh terpisah waktu
agar kau tak marah di saat aku lupa hari ulang tahunmu
INTERMEZO
Bila malam di kerumuni bintang
kau milikku
jika malam menyembulkan bulan
kau masih milikku
lalu, andai malam mendung turunkan hujan
milik siapakah kau ?
HENING
Telah lama ku pelajari arti kesendirian
bersama resah dan desau angin menjadi sahabat
menembang kepedihan mencoreng hitam kenangan
bulan berselimut awan malas tebari cahaya
HAMPA
Beribu pesonamu telah ku tangguk
lalu ku simpan rapih di rak hati terdalam
menemani hari sepiku di tiada hadirmu
memagut rindu di sisa bening bola matamu
menyusun ngilu yang menghujam waktu demi waktu
GETIR
Barangkali kita perlu bicara...
tentang dusta dan ketiadaan cinta
sementara sandiwara terus berlanjut
menggerus waktu menenggelamkan kenyataan
ya, semestinya kita bicara tentang kepalsuan selama ini
bila ada sela kita jeda sebentar…
merenung diri membawa keinginan di tempat sepi
membuang topeng menutup wajah kita selama ini
mengubur kebersamaan di antara luka dan airmata
ya, semestinya kita jeda berjalan beda mencari kesejatian
DUAPULUH ENAM AGUSTUS DUARIBU DELAPAN
Kita disore hari…,
saling menatap pura pura tak melihat
jantung berdegup hampir setahun tak bertemu
bahasa yang kukirim nyaris tak berarti
memamah sepi mengingatmu nyeri dihati
Kita disore hari...,
hampir saja ku tak datang menjenguk teduh matamu
sebab rindu yang kukirim dulu tak berbalas
tala yang kugemapun lupa kau senadakan
jiwaku lenggana menyapapun terasa besu
Kita disore hari...,
menyimak lagi sisa halaman yang belum terbaca
mencoba laraskan cerita akhir penyatuan
mengemas masa lalu mencari sempana kemudian hari
aku menatapmu sambil menunggu tiada waktu
kita disore hari...,
janji bertemu usai mengembara jelajahi matahari
disebuah mal nikmati senja bertukar cahaya
sekumpul bahagia kupandangi terus wajahmu
secercah asa aku dan kau ikrar bersama

















































